Di negeri orang, waktu berjalan berbeda. Hari dimulai lebih pagi, malam terasa lebih panjang, dan setiap rupiah yang dikirim pulang terasa seperti potongan hati yang dikorbankan. Mereka adalah pekerja migran—dari Indonesia, Filipina, Bangladesh, Nepal, dan banyak negara Asia lainnya—yang meninggalkan keluarga, tanah air, dan kenyamanan demi mencari kehidupan yang lebih baik. Kisah mereka penuh suka duka, tapi di atas segalanya, penuh ketangguhan yang luar biasa.
Kisah Kak Ika: Pembantu Rumah Tangga di Singapura
Kak Ika, 38 tahun, berasal dari desa kecil di Jawa Tengah. Ia datang ke Singapura delapan tahun lalu sebagai pekerja rumah tangga (PRT) setelah suaminya sakit parah dan biaya pengobatan menghabiskan tabungan keluarga. Kontrak pertama: gaji SGD 550 per bulan, libur hanya satu hari sebulan, kerja dari pagi sampai malam tanpa batas waktu jelas.
Hari-harinya dimulai jam 5 pagi: masak sarapan, antar anak majikan ke sekolah, bersih-bersih rumah tiga lantai, cuci baju, setrika, masak makan siang dan malam, jaga anak kecil sampai tidur. Kadang majikan marah karena hal kecil, seperti nasi kurang empuk atau lantai ada noda. Kak Ika pernah menangis diam-diam di kamar kecilnya saat ulang tahun anaknya yang ke-10—ia hanya bisa video call sebentar karena majikan bilang “jangan lama-lama pakai HP”.
Tapi Kak Ika bertahan. Setiap bulan ia kirim hampir 80% gajinya pulang—untuk biaya sekolah anak, obat suami, dan renovasi rumah bambu yang bocor. “Saya mikir, kalau saya pulang sekarang, anak-anak gimana? Lebih baik saya tahan di sini, daripada mereka susah di sana,” katanya suatu hari via chat. Setelah kontrak ketiga, ia mulai punya tabungan lebih. Sekarang anak sulungnya sudah kuliah semester 3, dan suaminya sembuh total. Kak Ika bilang, “Perjuangan ini berat, tapi hasilnya nyata. Saya bangga bisa jadi tulang punggung keluarga dari jauh.”
Kisah Abang Rahman: Pekerja Konstruksi di Timur Tengah
Abang Rahman, 45 tahun dari Bangladesh, bekerja di proyek pembangunan di Qatar selama 6 tahun. Suhu bisa mencapai 50 derajat Celcius di musim panas, helm pengaman terasa seperti oven, dan shift kerja 12–14 jam sehari. Ia tinggal di kamar dorm bersama 8 orang lainnya, tempat tidur susun, kamar mandi antre, dan makanan sederhana.
Pernah ia jatuh dari ketinggian 3 meter karena tali pengaman kurang kencang—patah tulang kaki, dirawat 2 bulan, tapi majikan tetap potong gaji karena “absen kerja”. Abang Rahman tak bisa pulang karena masih ada utang agen perekrutan Rp 50 juta. Tapi ia tak menyerah. Setiap malam setelah kerja, ia belajar bahasa Arab dasar dari teman, dan mulai jadi mandor kecil-kecilan. Gajinya naik, utang lunas dalam 4 tahun.
Sekarang ia sudah pulang kampung dua kali, bawa hadiah untuk istri dan empat anaknya. “Di sana panas, capek, kadang rindu sampai nangis sendirian. Tapi setiap lihat foto anak-anak pakai baju baru, semuanya terbayar,” ceritanya.
Duka yang Sering Tak Terucap
Banyak pekerja migran menghadapi hal yang sama: gaji telat, paspor ditahan, pelecehan verbal/fisik, jam kerja berlebih, dan rasa kesepian yang dalam. Ada yang depresi berat, ada yang sakit tanpa pengobatan layak. Tapi mereka tetap bertahan karena satu alasan utama: keluarga di tanah air. Remitansi mereka jadi penopang ekonomi rumah tangga, pendidikan anak, dan bahkan pembangunan desa.
Harapan di Ujung Perjuangan
Tak semua cerita berakhir sedih. Banyak yang pulang dengan tabungan cukup untuk buka usaha kecil, renovasi rumah, atau sekolahkan anak sampai sarjana. Ada yang bahkan kembali ke negeri orang dengan status lebih baik—sebagai supervisor atau pekerja terampil.
Perjuangan pekerja migran mengajarkan kita tentang arti pengorbanan, kekuatan cinta keluarga, dan betapa berharganya setiap rupiah yang kita terima dengan mudah. Mereka bukan sekadar “TKI” atau “OFW”—mereka adalah pahlawan modern yang bekerja di balik layar agar keluarga di rumah bisa tersenyum.
Lain kali saat kamu makan di restoran, naik taksi, atau lihat rumah bersih rapi—ingat, mungkin ada tangan pekerja migran di balik itu semua. Hargai mereka, doakan mereka, dan kalau bisa, dukung kebijakan yang melindungi hak-hak mereka.
Terima kasih untuk semua pekerja migran di negeri orang. Kalian kuat, kalian hebat, dan cerita kalian layak didengar.
(Semua cerita dan tulisan di atas 100% original, dibuat khusus untuk blogmu, Haikal. Nuansa dekat dengan pengalaman pekerja migran Indonesia di Singapura/Malaysia/Timur Tengah.)
(gambar-gambar berikut mengilustrasikan perjuangan dan harapan pekerja migran sehari-hari)







Tinggalkan Balasan