Menjadi pedagang keliling itu seperti menjalani hidup dalam satu gerobak roda empat—atau kadang hanya sepeda ontel dengan keranjang besar di belakang. Semuanya bergerak bersama: cuaca, nasib harian, suara klakson, dan harapan kecil yang dibungkus dalam setiap teriakan “Es degan! Bakso! Gorengan panas!”

Sisi yang Manis (Suka) Pagi-pagi buta, saat kebanyakan orang masih meringkuk di selimut, pedagang keliling sudah bangun. Ada kepuasan tersendiri saat api kompor pertama menyala, bau kopi tubruk atau gorengan menguar, dan pelanggan pertama datang dengan mata masih ngantuk tapi senyum lebar. “Bang, biasa ya, dua porsi,” kata mereka. Itu artinya kamu dikenal, diingat, dan dibutuhkan.

Banyak momen kecil yang bikin hati hangat. Anak kecil yang lari-lari sambil pegang uang receh Rp 2.000 untuk beli es lilin, lalu bilang “Makasih Om!” dengan suara cempreng. Ibu-ibu yang pesan ekstra sambal karena “suami suka pedes banget”. Atau kakek yang selalu cerita panjang lebar sambil makan bubur ayam, seolah gerobakmu adalah warung kopi favoritnya. Di situlah kamu merasa bukan cuma jualan—kamu jadi bagian dari rutinitas orang, bagian dari kehidupan kampung atau pinggir jalan.

Pendapatannya memang pas-pasan, tapi kadang ada keajaiban kecil: hari Minggu ramai, atau ada pelanggan baik hati yang ngasih tip lebih atau bilang “Semangat ya, Bang”. Itu cukup buat nambah semangat seharian.

Sisi yang Pahit (Duka) Tapi tak selamanya manis. Hujan deras datang tanpa diundang, gerobak basah kuyup, dagangan tak laku, dan baju sudah lembab dingin. Panas terik siang bolong membuat minyak goreng berasap dan kepala pusing. Polisi lalu lintas yang marah-marah karena “nganggur di trotoar”, atau preman yang minta “uang keamanan” dengan nada yang tak bisa ditolak. Semua itu nyata dan berulang.

Sakit juga sering datang diam-diam. Batuk-batuk karena asap asap kendaraan, sakit pinggang karena dorong gerobak puluhan kilometer, atau demam karena kehujanan berhari-hari. Banyak pedagang keliling yang tak punya BPJS atau tabungan darurat—kalau sakit, berarti berhenti jualan, berarti tak ada pemasukan. Keluarga di rumah menunggu, anak sekolah butuh uang SPP, istri butuh belanja dapur. Tekanan itu berat, tapi jarang terucap.

Yang paling menusuk adalah rasa tak pasti. Hari ini laku keras, besok bisa sepi total karena ada acara besar di jalan lain atau orang-orang lebih suka pesan online. Tak ada gaji bulanan, tak ada cuti, tak ada jaminan pensiun. Yang ada hanya kekuatan untuk bangun lagi besok pagi.

Tapi Mengapa Tetap Bertahan? Karena di antara suka dan duka itu, ada kebebasan yang tak dimiliki pekerja kantoran. Kamu bos bagi dirimu sendiri. Kamu bisa istirahat kapan saja (meski jarang), bisa pindah lokasi kalau satu tempat sepi, bisa ngobrol dengan siapa saja. Dan yang terpenting: kamu masih bisa melihat langsung senyum orang yang kamu layani. Bukan sekadar transaksi, tapi interaksi manusiawi.

Pedagang keliling adalah pahlawan tanpa tanda jasa di kota-kota kita. Mereka yang bangun paling pagi, pulang paling malam, dan tetap tersenyum meski badan lelah. Mereka mengajarkan kita tentang ketahanan, tentang arti “cukup”, dan tentang bagaimana hidup terus berjalan walau roda gerobak kadang macet di lubang jalan.

Jadi lain kali kamu dengar teriakan “Tahu isi! Cireng!” atau “Es campur segar!” dari kejauhan, coba berhenti sejenak. Beli satu porsi, ngobrol sebentar, atau sekadar senyum balik. Karena di balik gerobak itu ada cerita panjang—suka duka yang mereka telan sendiri, tapi tetap mereka bagi dalam bentuk makanan hangat untuk kita.

Terima kasih untuk semua pedagang keliling di luar sana. Kalian adalah denyut nadi jalanan yang tak pernah berhenti berdetak.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *